KAMI BENCI MALAYSIA

KAMI BENCI MALAYSIA

Senin, 11 Oktober 2010

KISAH BAYU DAN MONAA

Bayu dan Monaa telah berumah tangga selama 7 tahun.

Mereka saling mencintai, namun Monaa sejak awal menutupi semua perasaan cintanya terhadap Bayu.Ia begitu takut apabila Bayu mengetahui betapa ia mencintain Bayu, Bayu lantas meninggalkannya sebagaimana kekasih-kekasihnya selama ini.Tapi tidak bagi Bayu.Ia selalu menyatakan perasaan cintanya kepada Monaa dengan tulus dan begitu terbuka.Setiap saat ketika bersama Monaa, Bayu selalu menunjukkan cintanya yang besar, seolah-olah itulah saat akhir Bayu bersama Monaa.

Monaa selalu bersikap tidak menyenangkan terhadap Bayu.Setiap saat dia selalu mencoba menguji seberapa besar cinta Bayu terhadapnya. Monaa selalu mencoba melakukan hal-hal yang keterlaluan dan diluar batas kepada Bayu. Meski Monaa tahu betapa hal itu sungguh salah, namun melihat sikap Bayu yang tetap berlaku baik padanya, membuat Monaa tetap bertahan untuk melihat seberapa besar kesungguhan cinta pria yg dinikahinya itu.

Hari pertama pernikahan mereka, Monaa bangun siang. Dia tidak sempat menyiapkan sarapan untuk Bayu ketika Bayu hendak berangkat kerja, namun Bayu tetap tersenyum dan mengatakan, “Tidak apa-apa, nanti aku bisa sarapan di kantor”
Saat Bayu pulang dari kantor, Monaa tidak sengaja memasak makanan yang tidak disukai Bayu.Meski menyadari hal itu, Monaa tetap memaksakan agar suaminya mau makan makanan itu.Bayu tetap tersenyum dan berkata, ” Wah...sepertinya sudah saatnya aku belajar menghadapi tantangan. Masakanmu sepertinya tantangan yang hebat, sayang. Aku sudah tidak sabar untuk menyantapnya.” Monaa terkejut, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam saat Monaa terlelap Bayu memanjatkan doa, “Tuhan...Di pagi pertama pernikahan kami, Monaa tidak membuatkanku sarapan. Padahal aku begitu ingin bercakap-cakap di meja makan bersamanya sambil membicarakan betapa indah hari ini, di hari pertama kami menjalani kehidupan baru sebagai suami istri. Tapi tidak apa-apa, Tuhan. Karena sepertinya Monaa kelelahan setelah resepsi pernikahan kami tadi malam. Bantulah kekasih hatiku ini, Tuhan agar dia boleh punya tenaga yang cukup untuk menghadapi hari baru bersamaku besok. Tuhan, Engkau tau betapa aku tidak bisa makan spaghetti karena pencernaanku yang tidak begitu baik. Tapi sepertinya Monaa sudah bekerja keras untuk masak makanan itu. Mampukan aku untuk menghargai setiap apa yang dilakukan istriku kepadaku, Tuhan. Jangan biarkan aku menyakiti perasaannya meski itu tidak mengenakkan bagiku”

Tahun kedua pernikahan mereka. Bayu membangunkan Monaa pagi-pagi untuk berdoa bersama. Namun Monaa menolak dan lebih memilih melanjutkan tidurnya. Bayu tersenyum dan akhirnya berdoa seorang diri.

Sore hari sepulang kantor, Bayu mengajak Monaa berjalan-jalan ke taman. Meski terpaksa, Monaa akhirnya mau juga ke tempat dimana dulu perasaannya begitu berbunga-bunga saat bersama Bayu. Tetapi Monaa menolak rangkulan Bayu, dan berkata, “Jangan, Bayu...Aku malu...”. Bayu tersenyum dan berkata, “Ya, aku mengerti”. Monaa melihat kekecewaan dimata Bayu, namun tidak melakukan apapun untuk menghilangkan kekecewaan itu.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Monaa terlelap, Bayu memanjatkan doanya ” Tuhan...Ampuni aku yang tidak bisa membawa istriku untuk lebih dekat padaMU pagi hari ini. Mungkin tidurnya kurang karena pikirannya yang sedang berat. Tapi aku yakin, Tuhan besok Monaa mau bersama-sama denganku bercakap-cakap kepadaMu. Tuhan, Engkau juga tahu kesedihanku saat Monaa meolak kurangkul ketika ke taman hari ini. Tapi tidak apa-apa Dia sedang datang bulan, mungkin karena itu perasaannya juga jadi lebih sensitive Mampukan aku untuk melihat suasana hati istriku, Tuhan.”

Tahun ketiga pernikahan mereka. Mereka kini mempunyai seorang putera bernama Mark. Monaa menjadi tidak pernah lagi meneruskan kebiasaannya membaca bersama Bayu sebelum tidur. Monaa semakin sering menolak ciuman Bayu.

Monaa memarahi Bayu habis-habisan sore itu ketika Bayu lupa mencuci tangan saat akan menggendong Mark ketika Bayu pulang kerja. Monaa tahu betapa hal itu membuat Bayu terpukul. Namun idealismenya terhadap mendidik Mark membuat Monaa mengabaikan perasaan Bayu. Dan Bayu tetap tersenyum.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Monaa terlelap, Bayu memanjatkan doanya “Tuhan, Engkau tahu betapa sedih hatiku saat ini. Semenjak kelahiran Mark, aku kehilangan begitu banyak waktu bersama Monaa. Aku merindukan saat-saat kami membaca bersama sebelum tidur dan menciuminya sebelum ia tertidur. Tapi tidak apa-apa. Dia begitu capek mengurusi Mark seharian saat aku bekerja di kantor. Hanya saja, biarkanlah dia tetap terus tertidur dalam pelukanku, Tuhan. Karena aku begitu mencintainya. Sore tadi Monaa memarahiku karena aku lupa mencuci tangan saat menggendong Mark, Tuhan...Aku begitu kangen pada anakku sehingga teledor melakukan sebagaimana yg diminta istriku. Engkau tahu betapa aku terluka akan kata-kata Monaa, Tuhan...Tapi tidak apa-apa. Monaa mungkin hanya kuatir terhadap kesehatan anak kami Mark apabila aku langsung menggendongnya. Kesehatan Mark lebih penting daripada harga diriku.”

Tahun keempat pernikahan mereka. Monaa tidak ingat memasak makanan kesukaan Bayu di hari ulang tahunnya. Monaa terlalu sibuk belanja sehingga lupa bahwa Bayu selalu minta dibuatkan Blackforest dengan taburan coklat dan ceri diatasnya setiap ulang tahunnya tiba..

Monaa juga lupa menyetrika kemeja Bayu yang menyebabkan Bayu terlambat ke kantor pagi itu karena Bayu terpaksa menyetrika sendiri kemejanya. Monaa tau kesalahannya, namun tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu hal yang penting.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Monaa terlelap, Bayu memanjatkan doanya “Tuhan, Untuk kali pertama Monaa lupa membuatkan Blackforest kesukaanku di hari ulang tahunku ini. Padahal aku sangat menyukai kue buatannya itu. Menikmati kue Blackforest buatannya membuatku bersyukur mempunyai istri yang pandai memasak sepertinya, dan merasakan cintanya padaku. Namun tahun ini aku tidak mendapatinya. Tapi tidak apa-apa, mungkin lebih banyak hal-hal lain yang jauh lebih penting daripada sekedar Blackforest itu. Paling tidak, aku masih mendapatkan senyuman dan ciuman darinya hari ini. Ampuni aku, Tuhan apabila tadi pagi aku lupa tersenyum kepada Monaa. Aku terlalu sibuk menyetrika bajuku dan memikirkan pekerjaanku di kantor. Monaa sepertinya lupa untuk melakukan hal itu, meski aku sudah meminta tolong padanya tadi malam. Jangan biarkan aku melampiaskan emosiku karena dampratan atasanku akibat keterlambatanku hari ini kepada Monaa, Tuhan...Monaa mungkin keliru menyetrika kemeja mana yang seharusnya kupakai hari ini. Lagipula, sepatuku begitu mengkilap. Aku yakin Monaa sudah berusaha keras agar aku kelihatan menarik saat presentasiku tadi. Terima kasih untuk kebaikan istriku, Tuhan.”

Tahun kelima pernikahan mereka. Monaa menampar dan menyalahkan Bayu karena Mark sakit sepulang mereka berenang. Bayu terlalu asyik bermain-main dengan Mark sehingga tidak menyadari betapa Mark sangat sensitive terhadap dinginnya air kolam renang, yang mengakibatkan Mark terpaksa dirawat dirumah sakit.

Monaa mengancam akan meninggalkan Bayu apabila terjadi apa-apa dengan Mark. Monaa melihat genangan air mata di mata Bayu, namun kekerasan hatinya lebih menguasainya ketimbang perasaan Bayu.

Tetapi Malaikat tahu betapa saat itu Bayu lantas menuju ke Kapel rumah sakit dan memanjatkan doanya sambil menangis ”Tuhan...Tadi Monaa menamparku karena kelalaianku menjaga Mark sehingga dia sakit. Belum pernah Monaa bersikap dan berkata sekasar itu padaku, Tuhan...Tapi tidak apa-apa. Monaa benar-benar kuatir terhadap anak kami sehingga ia bersikap demikian. Tapi Tuhan, aku begitu terluka saat ia mengatakan akan meninggalkanku. Engkau tahu betapa ia adalah belahan jiwaku. Jangan biarkan hal itu terjadi, Tuhan..Mungkin dia begitu dikuasai kekuatiran sehingga melampiaskannya padaku. Tidak apa-apa, Tuhan...Tidak apa-apa. Asal dia mendapat ketenangan, aku akan merasa bersyukur sekali. Dan sembuhkanlah putera kami, Mark agar dia boleh kembali dapat ceria dan bermain-main bersama kami lagi, Tuhan”

Tahun keenam pernikahan mereka. Monaa semakin menjaga jarak dengan Bayu setelah kehadiran Rebecca, puteri mereka. Monaa tidak pernah lagi menemani Bayu makan malam karena menjaga puteri mereka yang baru berusia 5 bulan.

Monaa juga menjual kalung berlian pemberian Bayu dan menggantinya dengan perhiasan lain yang lebih baru. Ketika Bayu mengetahui hal itu, Monaa tau Bayu menahan amarahnya, namun Monaa berdalih, “Bayu , itu hanya kalung berlian biasa. Lagipula, aku bukan menjualnya, melainkan menukarnya dengan perhiasan yang lebih baru”

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Monaa terlelap, Bayu memanjatkan doanya “Tuhan, Aku begitu kesepian melewatkan makan malam sendirian tanpa Monaa bersamaku. Aku begitu ingin terus bercerita dan tertawa bersamanya di meja makan. Engkau tau, itulah penghiburanku untuk melepas kepenatanku setelah seharian bekerja di kantor. Tapi tidak apa-apa, Rebecca tentu lebih membutuhkan perhatiannya daripadaku. Lagipula, Mark kadang-kadang mau menemaniku. Hanya saja, jangan biarkan aku memendam sakit hati kepada Monaa karena menjual kalung pemberianku. Engkau tau begitu lama aku menabung dan bekerja ekstra demi menghadiahinya kalung itu, hanya untuk membuktikan terima kasihku padanya atas kesetiaan dan pengabdiannya sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku. Ampuni aku apabila tadi aku sempat berpikir untuk marah padanya”

Tahun ketujuh pernikahan mereka. Monaa sama sekali tidak mengindahkan kebiasaannya membelai kepala Bayu dan mencium kening suaminya sebelum Bayu berangkat kantor. Padahal Monaa tau, selama ini apabila dia lupa melakukannya, Bayu selalu kembali kerumah siang hari demi mendapatkan belaian dan ciuman Monaa untuknya. Karena Bayu tidak akan pernah tenang bekerja apabila hal itu belum dilakukan Monaa padanya. Monaa tidak mengucapkan I LOVE YOU untuk kali pertama dalam 7 tahun pernikahan mereka.

Dan di tahun ketujuh itu pula, Bayu mengalami kecelakaan saat akan berangkat ke kantor. Ia mengalami pendarahan yang hebat, yang membuatnya terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.

Monaa begitu terguncang dan terpukul. Ia begitu takut kehilangan Bayu , suami yang dicintainya. Yang selalu ada kapan saja dia butuhkan. Yang selalu dengan tersenyum menampung semua emosi dan kemarahannya. Yang tak pernah berhenti mengatakan betapa Bayu mencintainya. Tak sedikitpun Monaa beranjak dari sisi tempat tidur John. Tangannya menggenggam erat jemari suaminya yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Bibirnya terus mengucapkan I LOVE YOU, karena ia ingat kalau ia belum mengatakan kalimat itu hari ini.

Karena begitu sedih dan lelah menunggui Bayu, Monaa tertidur. Dalam tidurnya, malaikat yang selama ini mendengar doa-doa Bayu pada Tuhan membawa Monaa melihat setiap malam yg Bayu lewatkan untuk mendoakan Monaa. Ia menangis sedih melihat ketulusan dan rasa cinta yg besar dari Bayu padanya. Tak sedikitpun Bayu menyalahkannya atas semua sikapnya yang tidak mempedulikan perasaan dan harga diri Bayu selama ini. Alih-alih demikian, Bayu malahan menyalahkan dirinya sendiri. Monaa menangis menahan perasaannya. Dan untuk kali pertama dalam hidupnya, Monaa berdoa, “Tuhan, ampuni aku yang selama ini menyia-nyiakan rasa cinta suamiku terhadapku. Ampuni aku yang tidak memahami perasaan dan harga dirinya selama ini. Beri aku kesempatan untuk menunjukkan cintaku pada suamiku, Tuhan...beri aku kesempatan untuk meminta maaf dan melayaninya sebagai suami yang kucintai”

Dan ketika Monaa terbangun, Ia melihat pancaran kasih suaminya menatapnya” Kamu keliatan begitu lelah, sayang...Maafkan aku yang tidak berhati-hati menyetir sehingga keadaannya mesti jadi begini dan membuatmu kuatir. Aku tidak konsentrasi saat menyetir karena memikirkan bahwa kau lupa mengatakan I LOVE YOU padaku ”Belum selesai Bayu berbicara, Monaa lantas menangis keras dan menghambur ke pelukan suaminya

“Maafkan aku, Bayu ...Maafkan aku...I LOVE YOU...I really Love you...Kaulah matahariku, Bayu ...Aku tidak bisa bertahan tanpamu...Aku berjanji tidak akan pernah lupa lagi mengatakan betapa aku mencintaimu. Aku berjanji tidak akan pernah mengabaikan perasaan dan harga dirimu lagi...I LOVE YOU, John...I LOVE YOU.”

Coba renungkan!

Berapa banyak diantara kita yg menjadi seperti Monaa? Yang mengabaikan perasaan kekasih hati kita demi kepentingan dan harga diri kita sendiri? Jangan sampai terjadi sesuatu yang berat untuk kita lalui demi menyadari betapa berharganya orang-orang yang mengasihi kita..

Lebih dari itu, cinta yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa seperti Bayu, yang mengabaikan kepentingan dirinya dan perasaannya demi menjaga dan menunjukkan cintanya kepada pasangannya. Yang menjadikan pasangan hidup kita sebagai subjek untuk dikasihi dan dilayani, bukan sebaliknya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar